Siapa yang tidak tahu facebook dan twitter? Saat ini pertanyaan tersebut bisa menjadi pertanyaan yang klasik alias tidak perlu dipertanyakan lagi. Kebanyakan orang sudah memiliki dan menggunakan dua komponen di atas sebagai alat untuk terhubung dengan orang lain, bahkan tidak sedikit yang menemukan teman lama kembali berkat keampuhan si jejaring sosial ini. Data yang dirilis Royal Pingdom pada bulan September 2010 lalu menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar nomor tiga pengakses facebook setelah Amerika Serikat, dengan perkiraan jumlah pengguna sekitar 26 juta jiwa (http://alfanetsolutions.com/indonesia-negara-pengguna-facebook-terbesar-ketiga.html). Sedangkan pada aspek twitter, Indonesia menyumbang 15% dari total tweets di seluruh dunia (http://www.bawelohbawel.com/fakta-menarik-tentang-twitter-di-indonesia/). Peringkat yang diperoleh Indonesia dalam jumlah pengguna facebook dan twitter ini agak mengherankan, karena berdasarkan hasil survey dari ICT (Information and Communication Technology) tingkat melek internet orang-orang di Indonesia berada pada urutan 107 dari 159 negara (http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/12/23/fenomena-facebook-dan-implikasinya-bagi-indonesia/). Ternyata hasil survey tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia dengan gambaran keadaan melek internet pada orang-orang Indonesia. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satu penyebabnya mungkin karena jejaring sosial mudah untuk digunakan dan bisa diakses tidak hanya melalui komputer tapi juga bisa melalui telepon genggam, atau mungkin karena begitu tingginya kebutuhan manusia saat ini untuk terhubung selalu dengan orang lain.
Perkembangan teknologi terjadi karena peningkatan kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, bahkan dengan orang yang terpisah antar kota, antar pulau, bahkan terpisah antar benua dengan mereka. Semakin popularnya jejaring sosial menjawab keinginan manusia saat ini. Teknologi komputer dan internet pun mendukung perubahan tersebut. Hasilnya, tua, muda, sampai pada anak-anak sudah terlatih menggunakan facebook dan twitter, membuat status setiap hari, mengupload foto, bertukar informasi, chatting, sampai sekedar mengomentari status orang lain. Sadar atau tidak sadar yang jelas facebook dan twitter sudah menjadi kebutuhan rutin bagi banyak orang. Bahkan, begitu pentingnya setiap hari ada yang tidak pernah absen untuk mengupdate statusnya berkali-kali.
Ketika kita memikirkan sebab dari begitu cepatnya jejaring sosial tersebut berkembang di seluruh dunia termasuk di Indonesia, jawabannya tidak akan pernah lepas dari manfaat yang dihadirkan oleh jejaring sosial itu sendiri. Seperti yang telah disebutkan di atas, jejaring sosial dapat menghubungkan seseorang dengan orang lain disekitarnya bahkan dengan orang-orang yang terpisah secara jarak geografis dengannya tanpa harus melakukan tatap muka secara langsung. Disinilah terlihat bahwa jejaring sosial memenuhi kebutuhan para penggunanya untuk selalu terhubung dengan orang lain.
Segala teknologi yang mulai dikembangkan oleh manusia memang bertujuan untuk memudahkan manusia, memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat dengan seefektif dan seefisien mungkin, dan sebagai usaha untuk membuktikan eksistensi manusia itu sendiri sebagai makhluk yang berakal. Salah satu bentuk teknologi tersebut adalah jejaring sosial dengan berbagai macam bentuk seperti friendster, my space, facebook, dan twitter. Dua jejaring sosial yang disebutkan belakangan adalah model jejaring sosial yang sedang populer digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Dengan facebook dan twitter, orang-orang yang berada di belahan dunia yang satu bisa berhubungan secara personal dengan orang yang berada di belahan dunia lainnya, seakan-akan jarak yang beribu-ribu mil tidak mengahalangi komunikasi mereka.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, ternyata jejaring sosial tidak sekedar mendatangkan manfaat bagi para penggunanya. Dampak negatif dari jejaring sosial pun sudah terlihat, mulai dari kecanduan facebook dan twitter yang menyebabkan orang lalai dalam mengerjakan hal lain yang lebih penting sehingga produktivitas menurun, lupa waktu karena ber-jejaring sosial, sampai penculikan orang yang diawali dengan modus perkenalan di jejaring sosial. Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri terjadi dalam dunia maya. Setiap orang bebas mengakses jejaring sosial, bebas berkenalan dengan siapa saja, dan melakukan apa saja. Akibatnya dampak-dampak yang merugikan pun tidak bisa dihindari.
Tentu kita pernah mendengar seorang gadis remaja menghilang dari rumahnya setelah berkenalan dengan seseorang di facebook. Setelah diusut dan ditelusuri, ternyata si gadis remaja bertemu dengan orang yang baru dikenalnya di facebook. Semacam pertemuan kopi darat, dimana orang-orang yang berkenalan di dunia maya bertemu di kehidupan ‘nyata’. Pertemuan tersebut berujung dengan menghilangnya si gadis remaja selama beberapa hari. Entah dibawa kemana oleh orang yang baru saja dikenalnya dari jejaring sosial. Contoh tersebut merupakan salah satu kasus yang diakibatkan oleh dimulai dengan perkenalan di jejaring sosial, masih banyak kasus-kasus lainnya. Hal ini tidak bisa dihindari, karena sekali lagi setiap orang secara bebas dapat berkenalan dengan siapa saja di jejaring sosial secara personal.
Kasus ‘penculikan’ gadis remaja di atas merupakan contoh kasus yang cukup parah sebagai akibat dari adanya jejaring sosial. Sisi negatif jejaring sosial lainnya yang lebih sederhana kita rasakan adalah penuhnya jaringan internet karena banyaknya orang yang menggunakan internet untuk facebook-an atau twitter-an. Salah satu contohnya terjadi di Universitas Indonesia. Di UI, facebook di blokir setiap hari senin-jumat kecuali pada jam 12.00-13.00, sesudah jam 16.00, dan hari Sabtu serta Minggu. Sebenarnya ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pihak otoritas kampus dalam memutuskan kebijakan tentang pembatasan penggunaan jejaring sosial, yang dalam hal ini adalah facebook. Alasan yang paling banyak terdengar diantaranya masalah jaringan internet di UI dan intensitas mahasiswa dalam membuka facebook yang sudah terlalu tinggi. Pada alasan yang pertama, pihak otoritas kampus yang mengambil kebijakan menganggap bahwa penggunaan facebook di lingkungan Universitas Indonesia sudah terlalu berlebihan, sehingga membuat jalannya jaringan internet di UI terganggu. Semakin tingginya tingkat penggunaan facebook di kampus oleh civitas akademika UI, membuat jaringan server internet Ui menjadi padat dan memperlambat penggunaan jaringan untuk kepentingan lain. Selain permasalahan jaringan, pihak kampus berpendapat bahwa dengan seringnya mahasiswa menggunakan facebook menjadikan mahasiswa berkurang intensitasnya dalam membuka situs jurnal dan artikel lainnya yang berhubungan dengan kepentingan perkuliahan. Dengan bisa diaksesnya facebook di kampus, menyebabkan mahasiswa terlena dan lebih asyik dalam ber-facebook- ria dibandingkan membuka situs jurnal online dan materi perkuliahan lainnya.
Pembatasan penggunaaan facebook ternyata tidak hanya terjadi di Universitas Indonesia. Beberapa instansi negara juga melakukan pemblokiran facebook di wilayah kantor mereka. Salah satu contohnya adalah Pemkab Lamongan. Pihak Pemkab Lamongan melakukan pemblokiran akses facebook di wilayah kantornya, sehingga karyawan yang biasanya sering membuka facebook di komputer kantor tidak bisa lagi mengakses facebook (http://www.harianbangsa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1084:pemkab-lamongan-batasi-penggunaan-facebook-&catid=47:lamongan-madura&Itemid=83).Pemblokiran yang dilakukan oleh pihak Pemkab Lamongan ini merupakan tindakan yang beralasan. Seringkali para pegawai menggunakan akses internet di kantor untuk membuka facebook sehingga menyebabkan terganggunya kelancaran penggunaan internet untuk mendownload atau mengambil data penting lainnya di internet. Selain alasan tersebut, permasalahan lainnya yang muncul ketika para pegawai lebih sering menggunakan fasilitas internet di kantor adalah terganggunya keefektifan kerja. Pegawai menjadi lebih sering menggunakan internet untuk facebook-an dibandingkan untuk kepentingan pekerjaan. Kasus yang terjadi di Pemkab Lamongan ini sejalan dengan kebijakan yang diterapkan di UI. Alasan yang mendasari pembatasan penggunaan facebook pun hampir serupa. Banyak orang-orang yang dilalaikan dengan penggunaan jejaring sosial.
Berdasarkan fenomena yang terjadi, jejaring sosial memang seperti dua sisi mata uang. Sisi yang satu memunculkan manfaat sedangkan sisi yang lain menimbulkan kerugian-kerugian tersendiri bagi produktifitas individu. Pembatasan yang dilakukan oleh instansi pun menimbulkan pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa pemblokiran jejaring sosial tidak memberikan perubahan apapun pada keefektifan kinerja individu, sedangkan pihak yang mendukung menganggap bahwa pemblokiran jejaring sosial dapat membantu untuk membatasi individu dalam melakukan hal-hal yang kurang penting di jejaring sosial selama jam produktif untuk bekerja atau kuliah.
Jejaring sosial akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Manusia akan terus dan terus mencari inovasi baru yang lebih modern, lebih mudah, lebih murah, dan lebih banyak memberikan manfaat bagi kebutuhan manusia yang terus berkembang juga. Sebelum ditemukannya jejaring sosial semacam facebook dan twitter, beberapa tahun yang lalu masih kita dengar jejaring sosial semacam frienster, plurk, dan my space. Jejaring sosial tersebut sempat popular sekitar 4 tahun yang lalu. Sekarang hanya dalam waktu yang singkat, orang-orang sudah beralih kepada model jejaring sosial terbaru seperti facebook dan twitter. Awalnya muncul facebook yang ditemukan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004. Kemudian diikuti dengan kemunculan twitter pada tahun 2006. Beberapa aplikasi yang ditawarkan ada yang mirip dengan model jejaring sosial sebelumnya, ada juga yang merupakan tambahan dan modifikasi dari yang sebelumnya. Salah satu fasilitas yang menjadi tambahan adalah fasilitas obrolan (chatting). Dengan fasilitas chatting tersebut, orang yang menggunakan faceook dapat melakukan obrolan dengan orang yang sudah masuk dalam daftar temannya. Chatting sepertinya menjadi fasilitas favorit dari orang-orang di facebook. Berbicara dengan orang lain yang juga sedang mengakses internet dirasakan lebih cepat dbandingkan dengan mengirim sms. Sedangkan Twitter memiliki bentuk yang lebih sederhana dibandingkan facebook dan lebih mudah untuk digunakan. Rata-rata pemilik facebook biasanya juga memiliki twitter.
Sejatinya, jejaring sosial terkadang memang bisa menjadi perantara manusia untuk berhubungan dengan orang-orang yang berjarak secara geografis dengan mereka, bertemu teman lama, menambah teman baru, dan saling bertukar kabar. Tetapi, benarkah semua interaksi sosial tersebut bisa digantikan oleh facebook atau twitter? Mungkin pertanyaan ini bisa dijadikan untuk bahan penelitian tentang fenomena jejaring sosial. Beberapa orang menganggap bahwa mereka tidak perlu bertemu muka dengan orang untuk melakukan interaksi, cukup dengan jejaring sosial saja sudah bisa melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Mungkin dengan jejaring sosial memang dapat menghubungkan kita dengan orang-orang yang berada jauh secara tempat dengan kita, tetapi terdapat komponen dalam interaksi sosial yang tidak dapat difasilitasi oleh jejaring sosial. Dalam interaksi sosial yang bertemu muka antara satu orang dengan orang lain, terjadi attachment yang tidak bisa dilakukan melalui jejaring sosial. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan mungkin kebanyakan juga berbincang seperti yang bisa dilakukan melalui jejaring sosial, tetapi dengan berbincang secara langsung akan membuat orang untuk belajar mengenali emosi dan ekspresi yang ditampilkan oleh lawan bicara. Kesalahan interpretasi terhadap perbincangan pun bisa diminimalisir, sedangkan di jejaring sosial kesalahan interpretasi tersebut sangat mungkin sekali terjadi karena bahasa tulisan bisa dibaca dengan interpretasi yang berbeda.
Yang jelas, sudah terbukti bahwa jejaring sosial memberikan banyak manfaat bagi manusia tetapi tidak bisa dipungkiri juga terdapat aspek-aspek negatif dalam penggunaanya. Hal ini tergantung kepada manuisa sendiri. Perkembangan teknologi menyediakan fasilitas untuk mempermudah manusia, sekarang tinggal bagaimana fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar