Senin, 11 April 2011

Ingin membangun bangsa ini menjadi lebih baik? mulalilah dengan mendidik anak-anak

Ya, pertanyaan yang sekaligus menjadi judul dari tulisan ini memang sebuah statement yang mungkin biasa kita dengar. Tapi, sudahkan kita sadar? Mungkin kita sekedar tahu.Padahal 'Sadar' sangat jauh sekali maknanya dengan 'tahu'.
Jika kita lelah dengan bangsa ini, geram melihat keterpurukan yang tidak pernah tampak perjuangannya untuk bangkit, lelah dengan paradoks yang terjadi di negeri ini, lelah dengan perangai orang-orang yang kita temui, kita harus punya usaha untuk mulai bertindak. Tindakan itu tidak perlu dengan berdemo di depan para pemegang kekuasaan di negeri ini, tidak perlu dengan memaki-maki sendiri, tak ada gunanya. Kita cukup dengan melakukan pendidikan yang baik pada anak-anak usia dini yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini. Dengan pendidikan, bukan dengan pengajaran. Karena pengajaran bisa saja dilakukan pada binatang, sedangkan pendidikan hanya manusia yang bisa melakukannya.
Anak-anak dengan segala keceriaannya mudah sekali untuk terwarnai. Jika lingkungan mewarnainya menjadi merah, maka mereka akan berwarna merah, disamping pengaruh nature yang juga saling terkait dengan lingkungan. Anak-anak adalah 'peniru' yang sangat handal, seperti sebuah memori komputer. Jika diinputkan apapun akan diolah di memori mereka. Pada masa kanak-kanak inilah kita perlu menanamkan kemandirian,rasa percaya diri, kreatifitas, daya imajinasi, dan yang terpenting lagi adalah akhlak yang baik.
Apa yang salah dengan pendidikan anak-anak saat ini?. Mereka lebih banyak diajarkan dengan konsep pedagogi. Semua tanggungjawab pelajaran ada pada guru. Sistem pendidikan lah yang membuat semua ini seperti itu. Sehingga anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar. Juga tidak punya daya kreatif karena semua yang diajarkan guru sepeti sebuah jalan yang mutlak. Cara-cara memecahkan masalah yang paling benar adalah seperti yang diajarkan oleh guru.
lalu bagaimana dengan pendidikan moral dan akhlak? Pelajaran di sekolah selama ini hanyalah pelajarna tentang perbuatan terpuji dan tersela yang harus dihafalkan. Tidak pernah terinternalisasi dalam diri anak. Padahal sebuah ilmu akan mengubah perilaku seseorang jika ilmu tersebut benar-benar telag terinternalisasi dalam dirinya.

Tidak ada komentar: