Kamis, 18 Agustus 2011

Se-ja-rah


Tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Museum Sejarah Jakarta. Tempat yang dulunya merupakan kantor gubernur Batavia ini begitu membuat saya penasaran setelah mendengar cerita Mbak Nila yang berkunjung ke sana. Terlebih lagi saya adalah penggemar pelajaran sejarah ketika masih duduk di bangku sekolah. Sekarang pun masih, tapi agak terlupakan karena kesibukan kuliah di jurusan yang tidak berhubungan dengan sejarah.
Ketika akan mengakhiri petualangan pendek ku di tempat itu, aku melihat seorang anak sekitar umur 9 tahun bersama dengan ayahnya. Sang ayah mengajak anaknya menjelajahi museum sejarah jakarta dilengkapi dengan seorang pemandu. Bukankah itu sebuah pemadangan yang unik, di tengah orang tua-orangtua masa kini yang lebih suka mengajak anaknya ke mall atau wahana bermain dibandingkan ke tempat yang bisa menambah ilmu dan wawasan. Sebenarnya, saat itu mereka bukan satu-satunya keluarga yang berkunjung ke sana, tetapi ada hal lain yang membedakan ayah anak tersebut dengan keluarga lainnya. Sang ayah terlihat begitu peduli untuk memberi tahu kepada anaknya tentang sejarah negeri yang dia tempati ini, sementara di sekeliling mereka anak-anak lain berlarian tidak mengerti buat apa mereka berada di bangunan tua tersebut.
Keluargalah yang menjadi sekolah pertama bagi anak. Generasi yang memprihatinkan saat ini harus disudahi dengan generasi yang berilmu dan bermoral. Baik atau buruknya sebuah generasi berawal dari keluarga dan selanjutnya lingkungan. Kalau menyebut kata keluarga tentu saja yang terpikir pertama kali adalah orangtua. Lalu, mau menjadi orangtua yang manakah kita nantinya, menjadikan generasi yang berilmu dan bermoral atau membentuk generasi yang konsumtif dan terlenakan.

Tidak ada komentar: