Kamis, 05 Juli 2012

CINTA DARI TEPIAN SUNGAI KAPUAS

Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau merah Penulis : Tere Liye Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun : Cetakan 1, Januari 2012 Halaman : 512 halaman Petuah cinta Pak Tua seperti tak ada habis-habisnya. Mengajarkan makna terdalam dari sebuah hakikat cinta yang sering digaung-gaungkan orang-orang di dunia. Adalah Borno, seorang pemuda berhati paling lurus dari tepian sungai Kapuas menjalani hidup dengan kejujuran yang sangat sukar untuk ditemui pada diri pemuda-pemuda saat ini. Pak Tua, Borno, Mei, dan keseharian penduduk tepian Kapuas memberikan kita pemahaman tentang cinta dan kehidupan. Setelah banyak menulis novel-novel yang berkisah tentang anak-anak dan romansa cerita cinta, Tere Liye kini kembali hadir dengan novel ‘cinta’ terbarunya. Novel setebal 512 halaman ini memiliki seting tempat di tepian sungai Kapuas. Karakter utama dalam novel ini pun memiliki profesi yang tidak banyak dikenal oleh orang-orang, yaitu pengemudi sepit. Eksplorasi kehidupan orang-orang yang berada di tepain sungai Kapuas menyuguhkan latar sosial, ekonomi, dan watak manusia-manusia yang beragam. Novel ‘Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah’ mengisahkan tentang Borno dan keseharian penduduk tepian sungai Kapuas. Diawali dari kisah Borno yang telah berganti-ganti profesi setelah menamatkan pendidikan di SMA, hingga membawa Borno pada profesi sebagai seorang pengemudi sepit yang akhirnya mempertemukannya dengan seorang gadis berwajah peranakan Cina. Cinta pada pandangan pertama. Itulah yang terjadi pada Borno. Terlebih lagi Borno menemukan sepucuk angpau merah milik gadis tersebut di sepitnya. Hari-hari selanjutnya, antrian sepit nomor tigabelas menjadi keseharian Borno agar memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Mei, gadis peranakan Cina tersebut. Namun cinta tidak selalu lurus dan menyajikan hal-hal manis bagi para pencinta, termasuk pada Borno. Gadis yang dijuluki si’sendu menawan’ tersebut ternyata menyembunyikan kemisteriusan yang tidak bisa dimengerti oleh Borno pada awalnya. Untunglah Borno memiliki Pak Tua yang bijaksana selalu memberikan petuah-petuah cinta pada Borno dan cerita-cerita pengalaman masa mudanya yang begitu menakjubkan. Kehidupan Borno semakin berwarna dengan adanya Andi, sahabatnya yang jahil, dan penduduk sekitar tepian Kapuas dengan beragam permasalahannya. Karakter tokoh yang berasal dari beragam suku dan ras membuat novel ini menjadi begitu kaya dan membaurkan berbagai macam sekat ras dalam bermasyarakat. Lihat saja tokoh-tokoh para tetangga Borno yang sangat beragam seperti Koh Acong, Bang Togar, Cik Tulani, Mei, Andi dan bapaknya. Beragam suku bangsa dihadirkan dalam novel ini menjadi sebuah masyarakat tepian sungai Kapuas yang saling membantu dan jauh dari kesan individualisme yang sering kita lihat di perkotaan. Tere Liye membangun setiap karakter tokoh dalam novel ini sehingga bisa memperkaya pengetahuan pembaca mengenai watak manusia yang beragam. Kisah cinta Borno dan Mei pun terus berlanjut. Setelah sekian lama menekuni antrian sepit nomor tiga belas, Borno tetap tidak tahu siapa nama gadis itu. Berkat saran dari Pak Tua, Borno memberanikan diri menanyakan nama gadis tersebut setelah sedikit insiden ‘nama-nama bulan’ terjadi. Hari-hari berikutnya, Borno selalu mengantri antrian sepit nomor tiga belas walaupun tidak banyak hal lain yang diketahuinya tentang gadis tersebut selain namanya. Sebuah kesempatan tak terduga pun mempertemukan Borno dan Mei di Istana Kadariah dan berlanjut dengan belajar mengemudi sepit. Namun demikian, wajah sendu Mei masih tetap mengandung misteri bagi Borno. Misteri gadis tersebut semakin membuat Borno tidak habis mengerti ketika Mei berusaha menjauhi Borno dengan sengaja dan tidak mau lagi bertemu dengannya. Cinta sejati adalah perjalanan. Jalan cerita dari sebuah cinta tidak dapat dipaksakan, semakin dipaksakan maka akan semakin hambar rasanya. Itulah nasihat yang diberikan Pak Tua untuk Borno dan juga Andi, sahabatnya, ketika malam-malam hari mereka menemui pak Tua di rumah panggungnya. Nasihat cinta itulah yang berusaha dipahami oleh Borno dalam mengukir jalan cerita cintanya sediri. Salah satu tokoh yang paling menarik dalam novel ini adalah Pak Tua. Dengan segala kebijaksanaan hidup yang sudah pernah dialaminya, Pak Tua berbagi cerita dengan Borno dan Andi. Dari tokoh Pak Tua inilah Tere Liye banyak menyampaikan pesan-pesan mengenai kehidupan dan cinta sejati. Cerita-cerita cinta dan kebijaksanaan hidup yang diberikan Pak Tua memberikan definisi cinta yang baru bagi pembaca yang selama ini banyak disuguhi dengan cerita-cerita cinta gombal. Cinta dalam kesederhanaan dilengkapi dengan kisah nyata si Fulan dan Fulani yang menggugah perasaan bahwa cinta tidak hanya cukup dalam kata-kata saja. Cinta adalah perbuatan. Tere Liye begitu memikat pembaca dengan selipan-selipan kisah cinta yang mengagumkan dan jauh dari kesan murahan. Perjuangan hidup dan arti kerja keras juga bisa kita dapatkan dalam novel ini. Borno yang mulai merintis usaha bengkel yang lebih besar bersama bapak Andi ditipu orang. Padahal untuk memulai usaha tersebut, Borno harus merelakan sepitnya untuk dijual dan bapak Andi harus menjual rumah yang telah ditempatinya bertahun-tahun. Borno dan bapak Andi, yang biasa dipanggilnya ‘Daeng’, sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Habis sudah impian mereka selama ini untuk membuka bengkel yang lebih professional. Bapak Andi terpuruk, tapi tidak dengan Borno. Kesedihan tidak boleh berlarut-larut. Kejadian yang menimpa mereka justru awal untuk memulai segalanya. Itulah yang membuat Borno kembali bangkit. Bersama sahabatnya Andi, Borno kembali menjalankan bengkel dengan peralatan yang tersisa. Kerja keras Borno mulai membuahkan hasil. Pelanggan mulai berdatangan, bapak Andi tidak lagi duduk termangu memikirkan kejadian penipuan itu, promosi gencar-gencaran dilakukan, dan usaha bengkel Borno pun mulai dikenal. Kerja keras dan keteguhan hati menjadi salah satu daya tarik yang diberikan Tere Liye kepada tokoh Borno. Konflik dalam novel ini semakin menarik ketika borno bertemu dengan dokter gigi bernama Sarah. Pertemuan dengan Sarah ini menguak kembali kenangan masa lalu Borno tentang ayahnya. Sejak saat itu keluarga Borno dilimpahi perhatian oleh keluarga Sarah. Sarah yang juga merupakan gadis peranakan cina membuat hati Borno sesaat membandingkannya dengan Mei. Gadis itu selalu berwajah riang gembira, berbeda dengan Mei yang selalu terlihat sendu dan misterius. Selain kejadian-kejadian romantis ala Borno dan Mei,petuah-petuah pak Tua, dan pertemuan-pertemuan yang mengungkap masa lalu, Tere Liye dengan lugas juga menghadirkan kejadian-kejadian lucu yang dialami Borno dan warga tepian Kapuas lainnya saja. Lihat saja bagaimana kejadian lucu ketika Andi mengerjai Borno hingga dia yang sedang merana karena cinta langsung bangkit berlari ke dermaga mencari Mei. Namun, ternyata itu hanya tipu-tipu Andi belaka. Borno yang termangu tidak melihat keberadaan Mei malah disuruh bapak Andi untuk mengantar besannya dari negeri tetangga untuk pelesiran di sepanjang kota Pontianak dengan menggunakan sepit. Borno jengkel bukan kepalang telah ditipu oleh Andi. Namun, Pak Tua malah mengatakan bahwa itu adalah bukti bahwa Andi adalah sahabatnya yang baik. Borno balas mengerjai Andi, membuat dia mengungsi beberapa malam ke rumah Pak Tua karena takut dimarahai bapaknya. Kejadian lucu lainnya datang dari Bang Togar yang merupakan ketua persatuan pengemudi sepit yang membuat peraturan senam SKJ bagi para pengemudi sepit setiap pagi. Akibatnya, setiap pagi senam SKJ menjadi tontonan yang menarik dan menghibur bagi para penumpang sepit dan orang-orang yang lalu lalang setiap paginya. Cik Tulani yang perhitungan, bang Togar yang sok kuasa tapi perhatian, Andi yang sok tahu, dan pengemudi sepit lainnya memberikan warna yang kuat terhadap alur cerita novel ini. Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, kisah Borno ini mengandung pesan-pesan kehidupan yang disampaikan secara sederhana, menarik, dan kocak. Cinta, persahabatan, kerja keras, kejujuran, dan ketulusan hati telah disampaikan dalam bentuk verbalitas yang sangat menarik untuk dibaca. Nah, bagaimana akhir kisah cinta Borno dan Mei ‘si sendu menawan’? Silahkan cari tahu sendiri di novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Tidak ada komentar: